Sunday, December 14, 2014

Bajak JKT 2014 race review

Brand Centang kembali mengadakan #bajakJKT tahun ini, setelah tahun lalu (2013) untuk pertama kalinya mendobrak dunia pelarian Indonesia dengan acara bajak yang pertama.

I had fun last year. Finish masuk ke stadion GBK dengan sorak sorai menunggu, walaupun hanya rekaman, ternyata sesuatu banget. Sebagai perbandingan, satu bulan sebelum bajak 2013, merk elektronik Korea juga mengadakan running race di sebuah stadium, di GOR Soemantri, tetapi IMO yang bajak lebih dapet "seru" nya.

Tahun ini bajak dimulai dengan banyak misteri. Waktu race yang di pilih jelas "tampil beda," yaitu Sabtu sore jam 16:00. Lokasi dan rute race tidak diumumkan sampai 1 minggu sebelum acara. Di Lapangan Banteng!

Secara fair, si Centang sudah kasih warning jauh jauh hari:

* YOU VS. TRAFFIC
* YOU VS. JKT

Fast forward to race-day.

Jam 16:00 race belum dimulai. Telat. Biasanya ini not a good sign, for any race. MC bilang keterlambatan karena jalanan/rute lari belum berhasil ditutup. Akhirnya, jam 16:06 lagu Indonesia Raya berkumandang dan jam 16:08 peserta di lepas dalam perjalanan #bajakJKT

Waktu di KM 1 lewat Gn Sahari, sy kaget juga bahwa EO berhasil tutup 1 sisi jalan, sehingga mobil dan bis bis harus lawan arah di sisi jalan sebelah. Di sini, traffic masih bisa jalan dua arah.

Dari Gn Sahari belok kiri ke Krekot. Setelah Pasar Baru dan sebelum Pecenongan ada putaran, di sini mobil dan motor sudah ngantri mau putar dari jalur sebelah. Ini baru KM 2 dan wajah" yg sy lihat di mobil2 dan di motor masih dipenuhi muka heran (belum muka marah), mungkin dalam pikiran mereka.. "apa nih lautan kuning stabilo yg nutup jalan gue?"

Masuk Batu Ceper dan keluar di Hayam Wuruk, kita berlari ke arah perempatan Harmoni dan Juanda. Di sini terlihat lautan mobil/motor dari Harmoni sudah macet tidak bergerak. Ini KM 3. Klakson2 sudah mulai kedengaran. Dan yang paling buat cemas, tidak terlihat pengalihan lalu lintas ke jalan alternatif.

Nyeberang ke Medan Merdeka ke arah Gambir dan di perempatan2 yang kita lewati, semakin banyak dan nyaring bunyi klakson. Omelan2 pun sudah mulai kedengaran.

Setelah lewat patung Tugu Tani, kita lewat rel kereta di Kwitang. Sempat terlintas, "gimana kalau ada kereta mau lewat?" Di sini sekitar KM 7.

Dari Kwitang kita belok ke Senen. All hell broke loose here.

Pelari berlari samping2an dengan lautan mobil/motor. Bis bis dan bajaj bajaj yang sedang macet di Senen juga ngebul asep yang makin parah.



Akhirnya saya bosen isep asep dan mulai pakai masker di daerah Senen, di mana polusi knalpot paling parah, karena kita benar benar ada di tengah lautan mobil/bajaj/bis/motor.


Pikiran saya sepanjang race.. "let's just finish this damn thing. And hope no one got injured during this un-safe race."

Akhirnya saya finished just under one hour. Bila di bajak tahun lalu saya merasakan eforia finish, tahun ini I was just glad it ended. It was a "differently fun" experience, tetapi saya kepikiran dengan pelari pelari yang masih belum finished termasuk istri saya. Kecemasan utama saya, semakin lama jalanan ditutup, apakah amarah pengemudi kendaraan yang pastinya meningkat, akan menjadi keributan?

Acara si Centang kemarin memang unik. Tetapi at what cost? 

This foreign brand was lucky no one got serious injury, or died, during this un-safe exercise.

Dari cool-ness factor, brand Amrik tersebut dapat angka "A."

Mereka dapet marketing message yang mereka inginkan = YOU VS TRAFFIC. Plus YOU VS BAJAJ. Dan YOU VS JKT.

Unfortunately, they did this at our expense. And yes, we were willing and guilty participants. YOU VS. JAKARTA menjadi kenyataan. YOU yang dimaksud si Centang adalah kami, para pelari (betul, salah sendiri kami mau daftar dan partisipasi) yang telah "diadu" melawan ibukota kami sendiri.

Setelah selesai acara, dan mendengarkan klakson" dan melihat sendiri kemacetan yang saya ikut sebabkan (yes I am guilty as charged), saya dan beberapa pelari merasa di eksploitasi untuk mengangkat brand asing menjadi cool. Nothing more.

Pertanyaan yang tersirat, apakah masyarakat awam akan menjadi "negatif" terhadap pelari, dan olahraga lari, terutama ribuan pengemudi mobil/motor yg kena macet-tanpa-sosialisasi, dan TANPA RUTE ALTERNATIF (this is the real buzz-kill), selama 2 jam bahkan lebih?

Ada yang membandingkan acara bajak dengan demo buruh. Demo buruh (dengan skala bajak dan rute demo 10 km) harus ijin RESMI pihak yang berwajib, dan akan ada notice di sosmed, untuk membantu masyarakat merencanakan rute perjalanan pada hari demo.

Saya bisa bayangkan, misalnya saya adalah salah satu dari ribuan orang di kendaraan yg kena macet kemarin, dan tidak diberikan jalur alternatif, mungkin 30 menit pertama masih toleransi. Tetapi setelah itu saya juga akan kesal. Masih untung klu hanya kesal. Bagaimana dengan yang ada acara penting, ke stasiun Gambir ngejar kereta, atau sedang nganter ibu mau melahirkan/orang sekarat ke RS? 

Perhaps a fitting end to this rambling is by going back to basic = acara lari seharusnya mempromosikan hidup sehat.

Yesterday's event was a lot of things. But a healthy activity it was NOT.



LARI? No.  BAHAYA? Yes.

NB: mohon maaf kepada para pengguna jalan yang terganggu kemarin.



----------


Some of the more colorful comments as a result of #bajakJKT 2014
(posted in public fora such as twitter and blogging sites)








The swoosh's slogan = JUST DO IT!

They DID It. And All the Above. 

Congrats.