Thursday, March 24, 2016

Uber VS Bluebird = WSKP vs. TAXI Indonesia?

Selasa kemarin (22/3) adalah hari yang kelam untuk usaha transportasi di Indonesia pada umum nya, dan karakter sebagian masyarakat pada khususnya.



Kejadian kemarin menggugah saya untuk tulis sesuatu, apalagi belakangan lagi banyak INI vs ITU, ada Superman VS Batman, dan sebentar lagi Capt America VS IronMan di Civil War.

Dengan mengambil analogi Superman (superbird) VS Batman (batbird), saya coba sharing pemikiran mengenai hal ini.

Di alternate universe cerita saya, ada kota Metropolis dan Gotham, dan Blue Bird adalah si Superman. Si burung biru sudah lama jadi superhero taxi, dan sudah sukses menolong banyak orang yang perlu jasa transportasi aman dan terjamin. 

Aplikasi WSKP (Wirausaha Sewa Kendaraan Pribadi) seperti Uber di fairy tale ini adalah si Batman, dengan gadgets yang canggih, dan lebih banyak duit dari Superman.

Batman dan Superman berguna untuk masyarakat, tetapi Superheroes, seperti di film, ternyata juga harus diatur pemerintah. Kalau bisa, pemerintah nya yang 100% memikirkan rakyat DAN pengusaha lokal. Namanya juga dongeng.

Back to the real world.

Kejadian penganiayaan antara sesama supir taxi, dan pengrusakan mobil dan segala ekses ekses lain yang terjadi, pada akhirnya menjadi cermin yang kurang positif terhadap Indonesia di media internasional.




Ada joke yang beredar, bahwa CEO Uber mendapat laporan mengenai kisruh kemarin:

=====

(Travis Kalanick is the CEO of Uber Technologies)

Employee: "Mr. Travis Kalanick, our operation in Indonesia is facing protest from taxi drivers."

Travis Kalanick: "is it a big protest?"

Employee: "bigger than the france."

Travis: "shit, we should help the insurance claims for our partners, how many fleet are being destroyed?"

Employee: "12 sir, but it's not ours, the protesters are destroying their fellow taxi's fleet."

Travis: "I like this country, we should invest more in Indonesia."

======

Sepertinya (mungkin sy salah) joke ini juga orang Indonesia yang buat. Menertawakan sesama orang Indonesia. Yang memang mungkin layak ditertawakan.

Isu isu yang beredar, aksi pengemudi pengemudi taksi kemarin ada yang "tunggangi." Bau pesing politik menyengat. What is the truth? Who knows?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah perusahaan taksi resmi benar? Apakah Uber dan Grab dan perusahaan sejenis yang benar? Atau, semua pihak salah, kecuali konsumen?

Daripada fokus siapa yang benar/salah, ada baiknya situasi ini dilihat dari segi makro dan mikro yang lebih balanced.

Sebelum saya lanjut, saya tidak memihak siapapun dalam hal ini, dan tidak ada kepentingan baik dengan Batman atau Superman.


Aplikasi WSKP (Wirausaha Sewa Kendaraan Pribadi) = UBER dan sejenis 

Sebagai fakta, Uber dilarang total atau diatur ketat di 9 negara, termasuk di beberapa propinsi di Amerika Serikat sendiri.


Bagaimana dengan Indonesia? Uber sudah ada cukup lama. Dan karena sepertinya terus berkembang, dan peraturan tidak jelas, akhirnya Grab mulai masuk ke servis sejenis di akhir tahun 2015.

Original business model Uber yang saya tangkap adalah, di middle class countries banyak orang yang punya mobil, dan tidak maksimal penggunaan nya. Uber menjadi "jembatan" sempurna untuk orang orang ini mendapatkan extra income, menjadi "wirausahawan" hanya dengan modal mobil yang sudah dimiliki. Catatan penting nya = si driver adalah pemilik mobil, jadi dia harus tanggung jawab terhadap mobil dan reputasi nya secara menyeluruh, sebut saja ini "model A."

Hemat saya, model A seharusnya sah sah saja. Di mana pun. Kapan pun. Mengapa? Karena model A memberikan kesempatan untuk pemilik mobil untuk memaksimalkan pemakaian aset nya sendiri (kata kunci = mobil milik sendiri). 

Yang penting, perusahaan aplikasi WSKP buka PT/badan hukum di sini, dan menyerahkan data semua Indonesia-based drivers ke dirjen pajak.

Dengan berkembangnya Uber, perusahaan dengan valuation US$ 50 billion mulai ber eksperimen di luar Amerika, bekerjasama dengan perusahaan mobil rental (yang punya banyak mobil nganggur) melalui sebut saja "koordinator," dan mencari drivers-for-hire (yang tidak ada/rendah sense of ownership / accountability nya) untuk menyediakan jasa sejenis taksi. Kita sebut saja ini "model B."

Yang potensi menjadi masalah IMO adalah model B ini, di mana driver dan mobil "gak connect" alias tidak ada keterikatan kepemilikan. Biasanya ada pihak ke 3 yang ikut campur di sini, bahkan pihak ke 4 dan selanjutnya, misalnya = koperasi perpanjangan tangan Uber, perusahaan rental car, dan driver driver "independen" yang ga punya mobil. 

Hemat saya model B lebih sarat resiko untuk konsumen, karena sang supir BUKAN pemilik mobil, dan sang intermediary juga BUKAN representatif resmi Uber/Grab dan tidak bisa di somasi secara legal sampai Headquarters masing masing di luar Indonesia. Karena wadah intermediary hanyalah agent, bila ada kejadian dengan driver-for-hire yang BUKAN staf permanen dari sang intermediary, the parent company (misalnya Uber) bisa selalu ngomong, "kami hanya lah perusahaan aplikasi."


BLUE BIRD DAN TAKSI RESMI LAIN

Apakah Blue Bird = Bad Guy? Maybe. Maybe not.

Berikut ada 2 tulisan mengenai si burung biru, yang pertama dari teman saya mas Angga Adhitya, yang ayahnya adalah seorang ex-staf Blue Bird. Mas Angga adalah seorang profesional sukses di industri perhotelan:

"Just want to share something that is actually really personal to me.

My father worked and had been devoting his life as one of the employees of the taxi company everyone talks about today. From the very beginning of his career life up until his retirement as one of its General Managers last year. And that was also how my father met my mother. She was my father's secretary :)

The company has been a big part of my family's life. As much as I feel that supposedly my father started a business investment instead of spending all of his life to work in a corporation (so there can be something inherited to me - as in business), but nothing to regret about. At all. I faithfully believe that he had a great time for more than 30 years to fulfill his family's needs by being loyal to the company.

Anyway, how much is much? As I grow older, I start to think wiser that my family have everything we need. Not much, not less. We still can afford quality educations and decent lifestyle. All thanks to my father and of course the company he worked in - who was (and I am sure still has been) tremendously generous in giving proper living to its employees, all levels.

I still remember when I was attending several company's events as my father's companion where they granted scholarship options for all employees, including drivers, whose kids had attained and maintained academic achievement at their school. The company even never had any doubt to give school loans to its employees.

Even up until today, his loyalty is still being appreciated although he has retired from the company. My youngest sister, who is still in college now, is still benefiting from the scholarship program of the company - which of course really helpful for my family financially.

I still can imagine how many people, all employees, be it drivers, operational or management staffs, whose life has been financially depending on the company, are very much supported.

I still remember that every year on Ied al-Fitr day, I had the chance to meet and bond with the owners' family and never thought that I'd still be in touch with them as friends. They are indeed very well educated, being so welcoming to everyone, and nurturing all employees' welfare.

We all know that the advancement on digital technology is inevitable, and no exception for public transportation industry. And I am very sure the company is aware of that and has been anticipating it by pulling out all the stops to also leverage such effective & efficient business platform. Even kids these days are demanding for newer smartphones and tablets (which is crazy scary how information has been passed on very quickly before we can really pervade what's right and wrong carefully).

My point is, I just can't stop thinking of the drivers who are still working very hard until dawn to give a proper living for their family and not joining the protest today while some of our people made a snap judgment by generalizing the situation.

Of course we all agree on what some of the drivers did, who partook on the demo today, was utterly false, careless, violent and intolerable. But please take a moment for other employees and drivers whose family's life are still depending on the business from the passengers. I am really sure that even the company doesn't support and is completely disagree on such vandal provoked acts.

Whatever people say about the company, I am still putting my utmost respect and appreciation for all the great things that the company has given to my family: the ability to have decent shelter, the capability to afford quality educations, and the opportunities to have a proper economy.

And certainly this happens not only on my family, but for hundred thousand others."

=======

Lalu ada blogger dari Nuniek.com yang dulu "loyalis" Blue Bird tapi mulai meragukan sang burung biru:


======

Pada intinya kedua tulisan di atas mau support Blue Bird, tapi dari Nuniek.com, sepertinya mengalami pengalaman kurang sedap belakangan ini. Ditambah aksi anarkis hari Selasa kemarin, rusaklah reputasi si burung biru.

IF Blue Bird engineered the demo and it got out of control, they deserve the bad rap. All of it.


PEMERINTAH

Saya pernah bicara sama pengemudi Uber di Jakarta, sebut saja Y, yang kebetulan adalah pemilik mobil. Y sangat berterima kasih ada Uber, karena bisa memberdayakan diri, dan mobil miliknya, mendapatkan extra income signifikan, dengan jam yang fleksibel. 

Secara praktis, berkat aplikasi WSKP (Wirausaha Sewa Kendaraan Pribadi) seperti Uber, Y telah menjadi seorang wirausahawan a.k.a. entrepreneur. Dan karena skala nya kecil, Y sebenarnya adalah seorang praktisi UKM.

Dan bukan kah pemerintah sering gembar gembor mengenai betapa penting nya UKM untuk pertumbuhan bangsa?

Hemat saya pemerintah harusnya membedakan antara C2C (consumer to consumer) yaitu "model A," dan "model B" yang sudah mengarah ke B2C (business to consumer), karena melibatkan koperasi (atau badan usaha lain tapi bukan si Uber/Grab sendiri) yang akuntabilitas nya tidak sejelas sebuah perusahaan taksi resmi.

Model A secara praktis adalah C2C karena menghubungkan pemilik mobil yang menjual jasa transportasi, langsung dengan pemakai jasa, dibantu dengan aplikasi WSKP.

Di lain pihak, pemerintah sudah layaknya mendukung perusahaan TAXI RESMI yang sudah bayar pajak dan melaksanakan kewajiban lain nya, yang berdasarkan cerita mas Angga sepertinya dilakukan (misalnya) Blue Bird dengan cukup baik.

Layaknya, setiap perusahaan aplikasi WSKP harus buka kantor representatif di Indonesia, untuk melaksanakan pembayaran pajak dari hasil 20% komisi (atau sekitar angka ini) yang mereka potong dari setiap job

Perusahaan aplikasi WSKP juga harus memberikan data Uber/Grab drivers (pemilik mobil) dari Indonesia, supaya mereka juga bisa melakukan kewajiban pajak bila penghasilan di atas batas tertentu yang ditentukan pemerintah.

Untuk WSKP business model B (B2C), para "agen/koperasi" yang mengkoordinasikan mobil rental dengan pengemudi lepasan, layaknya melaksanakan kewajiban seperti perusahaan taksi resmi, untuk keamanan dan kenyamanan bersama.


KONSUMEN (you and me)

Hasil aksi anarkis kemarin, pemerintah mengumumkan sedang menggodok peraturan dan sementara aplikasi WSKP adalah status quo, alias "gajebo."

Penggunaan WSKP sudah menjadi part of everyday life bagi banyak masyarakat. Layaknya kita tau jasa apa yang kita beli, karena penggunaan WSKP bukan nya tanpa resiko, apalagi bila si pengemudi "hanya" driver for hire, dan kita sebagai konsumen TIDAK BISA menuntut Headquarters Uber/Grab bila ada kejadian negatif.

Salah satu contoh yang pernah terjadi = penumpang naik mobil WSKP dari biz model B, lalu pengemudi bilang "pak bensin nya ga cukup untuk sampai ke tempat tujuan bapak." Nah... untung hanya bensin.

Di India sudah ada penumpang wanita yang di perkosa supir Uber. Di Amerika asal Uber, sudah cukup banyak pengaduan sexual and other forms of harrasment oleh supir supir Uber.

Ujung ujung nya, menggunakan jasa WSKP lebih murah. Selama kita sebagai konsumen sadar, bahwa harga murah dalam hal ini juga ada resiko, sah sah saja kita menggunakan aplikasi WSKP. 

Perusahaan seperti Blue Bird punya banyak biaya yang harus mereka tanggung, dan adalah hak mereka untuk menetapkan harga. Bila ternyata harga overpriced dan gak laku, dan/atau kualitas servis menurun (seperti contoh dari tulisan di Nuniek.com) dan konsumen kehilangan kepercayaan terhadap si burung biru, mereka juga yang akan merasakan imbas nya. 

The power is with us consumers. If we don't like nor need a product or service, we just stop buying/using it. And vice versa.


GOJEK dan GRAB = WW (Wonder Woman)

Sebelum masuk ke KONKLUSI, topik Gojek/Grab (Ojek Basis Aplikasi) juga layak dibicarakan, karena pada intinya para ojekers di kategori ini juga masuk ke segmen WSKP (Wirausahawan Sewa Kendaraan Pribadi).

Di tahun 2014, menurut Korlantas Mabes Polri, tercatat ada 97 juta Sepeda Motor di Indonesia! Dan bertumbuh sekitar 12% (11.6 juta unit motor baru!) per tahun.

Fenomena Gojek, Grab(bike) dan servis sejenis sudah mewabah di Indonesia. Per bulan Maret 2016, armada Gojek kabarnya sudah melewati 150.000 gojekers di seluruh Indonesia. Grab-bike juga sedang bertumbuh pesat, dengan perkiraan 1/3 angka Gojek = +/- 50.000 grab-bikers.

Secara praktis, dengan 200.000++ gabungan armada ojek-aplikasi, artinya sudah lahir 200.000++ wirausahawan di Indonesia. Tidak semua "wirausahawan" ini baru, karena cukup besar persentase adalah ojek lama yang beralih menjadi ojek berbasis aplikasi. Bedanya, dengan basis aplikasi, para wirausahawan ini sekarang bisa melaksanakan 'usaha UKM' mereka dengan lebih efisien.

The numbers speak for themselves. Kabarnya ada beberapa driver GOJEK/GRAB yang bisa berpenghasilan 15 juta per bulan. Saya rasa ojek model lama (tanpa bantuan aplikasi), seberapa rajin pun mereka, sangat sulit menyentuh angka penghasilan 15 juta per bulan. Dengan fasilitas bantuan teknologi, saat ini praktisi ojek memiliki opsi nyata untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka dengan signifikan.

Tentunya gak semua ojek-basis-aplikasi bisa mendapatkan "omzet" 15 juta tersebut. Tetapi dengan bantuan teknologi, para praktisi ojek benar benar bisa mengkaryakan diri, dan motor milik mereka, menjadi sebuah UKM kecil.

Mau Omzet Besar? Rajin rajin lah terima order, ikuti peraturan, dan layani pelanggan dengan baik. The business rules apply to them more than ever, along with the commensurate rewards (and penalties).

Tentunya ini kabar baik bagi Indonesia, karena para pemilik sepeda motor sekarang punya opsi untuk menjadi true entrepreneurs a.k.a. seorang praktisi UKM.

Hidup Wonder Woman!



KONKLUSI

Seperti di film BATMAN vs SUPERMAN, kehadiran Wonder Woman lah yang membuat film itu 'komplit.' GOJEK/GRAB adalah Wonder Woman di fairy tale jasa transportasi Indonesia ini.

Praktisi jasa transportasi via UBER, Grabcar, Gojek, dan Grabbike (dan aplikasi sejenis), semua masuk dalam kategori yang sama = WSKP (Wirausahawan Sewa Kendaraan Pribadi). 

Sebagai Wirausahawan di sektor UKM pelayanan, mereka pun sekarang harus "tunduk" pada hukum ekonomi dan bisnis pelayanan = Service and efficiency is KEY.

Di awal tahun 2016, market value Uber adalah over US$ 50 billion (IDR 660 triliun), LEBIH TINGGI nilainya dari GABUNGAN 2 perusahaan terbesar Indonesia, yaitu BCA (IDR 320 triliun = USD 24.1 billion) dan ASTRA (IDR 301 triliun = USD 22.7 billion) = USD 46.8 billion.

Apa artinya? Jaman sudah berubah. Sebuah perusahaan yang isi nya just a bunch of servers, bisa melebihi valuation BCA plus ASTRA, yang aset fisik nya "nyata" dan "bisa dipegang." Times are changing, dan praktisi bisnis termasuk Blue Bird, dan kita semua yang juga terlibat di dunia usaha/profesional, must learn how to adapt and survive.

Pengusaha Taxi Resmi, seperti Blue Bird dan Express, sudah layak khawatir dengan perkembangan teknologi yang sudah menohok business-model mereka secara langsung. 

Seharusnya ini menjadi cabukan untuk mereka berbenah, apakah perlu membuat aplikasi sejenis (bukan hanya untuk call taxi, tapi bisa memfasilitasi pemilik mobil untuk jadi WSKP), atau menggandeng perusahaan lain untuk memaksimalkan economies-of-scale, dan/atau memikirkan kembali pricing model mereka, sehingga bisa kompetitif dengan para WSKP.

Berikut adalah sedikit data mengenai susah nya bisnis.

Setelah 5 tahun, hanya 45% perusahaan masih berdiri, artinya lebih dari setengah perusahaan yang didirikan 5 tahun lalu, hari ini sudah tidak ada (Eurostat, EU, Dec 2014).

Setelah 10 tahun, hanya 3 dari 10 perusahaan tetap eksis. Tujuh dari sepuluh lenyap. (Entrepreneur Weekly, Jan 2016).




Business is not easy. Pemerintah sudah layaknya mendukung praktisi bisnis yang mau mengikuti peraturan, dan mem fasilitasi business environment yang mengutamakan fair play dan consumer safety.

Pemerintah harus membedakan regulasi antara WSKP model A (Consumer to Consumer/C2C), dan WSKP model B (Business to Consumer/B2C).

Business model C2C seperti Gojek/Grab, dan Uber/Grabcar via pemilik kendaraan, layak didukung sepenuhnya, untuk memberi kesempatan masyarakat yang sudah memiliki aset kendaraan roda dua/empat, untuk memaksimalkan penggunaan aset tersebut dan menghasilan income secara halal.

Sebagai konsumen, mari kita bijak bijak menggunakan jasa transportasi, apa pun itu.

Baik sebagai praktisi ataupun pemakai, ada satu hal yang penting = JANGAN ANARKIS!

Now back to the fairy tale... Anda team Batman atau Superman

Saya team WW.




PHOTO CREDITS: