Sunday, December 14, 2014

Bajak JKT 2014 race review

Brand Centang kembali mengadakan #bajakJKT tahun ini, setelah tahun lalu (2013) untuk pertama kalinya mendobrak dunia pelarian Indonesia dengan acara bajak yang pertama.

I had fun last year. Finish masuk ke stadion GBK dengan sorak sorai menunggu, walaupun hanya rekaman, ternyata sesuatu banget. Sebagai perbandingan, satu bulan sebelum bajak 2013, merk elektronik Korea juga mengadakan running race di sebuah stadium, di GOR Soemantri, tetapi IMO yang bajak lebih dapet "seru" nya.

Tahun ini bajak dimulai dengan banyak misteri. Waktu race yang di pilih jelas "tampil beda," yaitu Sabtu sore jam 16:00. Lokasi dan rute race tidak diumumkan sampai 1 minggu sebelum acara. Di Lapangan Banteng!

Secara fair, si Centang sudah kasih warning jauh jauh hari:

* YOU VS. TRAFFIC
* YOU VS. JKT

Fast forward to race-day.

Jam 16:00 race belum dimulai. Telat. Biasanya ini not a good sign, for any race. MC bilang keterlambatan karena jalanan/rute lari belum berhasil ditutup. Akhirnya, jam 16:06 lagu Indonesia Raya berkumandang dan jam 16:08 peserta di lepas dalam perjalanan #bajakJKT

Waktu di KM 1 lewat Gn Sahari, sy kaget juga bahwa EO berhasil tutup 1 sisi jalan, sehingga mobil dan bis bis harus lawan arah di sisi jalan sebelah. Di sini, traffic masih bisa jalan dua arah.

Dari Gn Sahari belok kiri ke Krekot. Setelah Pasar Baru dan sebelum Pecenongan ada putaran, di sini mobil dan motor sudah ngantri mau putar dari jalur sebelah. Ini baru KM 2 dan wajah" yg sy lihat di mobil2 dan di motor masih dipenuhi muka heran (belum muka marah), mungkin dalam pikiran mereka.. "apa nih lautan kuning stabilo yg nutup jalan gue?"

Masuk Batu Ceper dan keluar di Hayam Wuruk, kita berlari ke arah perempatan Harmoni dan Juanda. Di sini terlihat lautan mobil/motor dari Harmoni sudah macet tidak bergerak. Ini KM 3. Klakson2 sudah mulai kedengaran. Dan yang paling buat cemas, tidak terlihat pengalihan lalu lintas ke jalan alternatif.

Nyeberang ke Medan Merdeka ke arah Gambir dan di perempatan2 yang kita lewati, semakin banyak dan nyaring bunyi klakson. Omelan2 pun sudah mulai kedengaran.

Setelah lewat patung Tugu Tani, kita lewat rel kereta di Kwitang. Sempat terlintas, "gimana kalau ada kereta mau lewat?" Di sini sekitar KM 7.

Dari Kwitang kita belok ke Senen. All hell broke loose here.

Pelari berlari samping2an dengan lautan mobil/motor. Bis bis dan bajaj bajaj yang sedang macet di Senen juga ngebul asep yang makin parah.



Akhirnya saya bosen isep asep dan mulai pakai masker di daerah Senen, di mana polusi knalpot paling parah, karena kita benar benar ada di tengah lautan mobil/bajaj/bis/motor.


Pikiran saya sepanjang race.. "let's just finish this damn thing. And hope no one got injured during this un-safe race."

Akhirnya saya finished just under one hour. Bila di bajak tahun lalu saya merasakan eforia finish, tahun ini I was just glad it ended. It was a "differently fun" experience, tetapi saya kepikiran dengan pelari pelari yang masih belum finished termasuk istri saya. Kecemasan utama saya, semakin lama jalanan ditutup, apakah amarah pengemudi kendaraan yang pastinya meningkat, akan menjadi keributan?

Acara si Centang kemarin memang unik. Tetapi at what cost? 

This foreign brand was lucky no one got serious injury, or died, during this un-safe exercise.

Dari cool-ness factor, brand Amrik tersebut dapat angka "A."

Mereka dapet marketing message yang mereka inginkan = YOU VS TRAFFIC. Plus YOU VS BAJAJ. Dan YOU VS JKT.

Unfortunately, they did this at our expense. And yes, we were willing and guilty participants. YOU VS. JAKARTA menjadi kenyataan. YOU yang dimaksud si Centang adalah kami, para pelari (betul, salah sendiri kami mau daftar dan partisipasi) yang telah "diadu" melawan ibukota kami sendiri.

Setelah selesai acara, dan mendengarkan klakson" dan melihat sendiri kemacetan yang saya ikut sebabkan (yes I am guilty as charged), saya dan beberapa pelari merasa di eksploitasi untuk mengangkat brand asing menjadi cool. Nothing more.

Pertanyaan yang tersirat, apakah masyarakat awam akan menjadi "negatif" terhadap pelari, dan olahraga lari, terutama ribuan pengemudi mobil/motor yg kena macet-tanpa-sosialisasi, dan TANPA RUTE ALTERNATIF (this is the real buzz-kill), selama 2 jam bahkan lebih?

Ada yang membandingkan acara bajak dengan demo buruh. Demo buruh (dengan skala bajak dan rute demo 10 km) harus ijin RESMI pihak yang berwajib, dan akan ada notice di sosmed, untuk membantu masyarakat merencanakan rute perjalanan pada hari demo.

Saya bisa bayangkan, misalnya saya adalah salah satu dari ribuan orang di kendaraan yg kena macet kemarin, dan tidak diberikan jalur alternatif, mungkin 30 menit pertama masih toleransi. Tetapi setelah itu saya juga akan kesal. Masih untung klu hanya kesal. Bagaimana dengan yang ada acara penting, ke stasiun Gambir ngejar kereta, atau sedang nganter ibu mau melahirkan/orang sekarat ke RS? 

Perhaps a fitting end to this rambling is by going back to basic = acara lari seharusnya mempromosikan hidup sehat.

Yesterday's event was a lot of things. But a healthy activity it was NOT.



LARI? No.  BAHAYA? Yes.

NB: mohon maaf kepada para pengguna jalan yang terganggu kemarin.



----------


Some of the more colorful comments as a result of #bajakJKT 2014
(posted in public fora such as twitter and blogging sites)








The swoosh's slogan = JUST DO IT!

They DID It. And All the Above. 

Congrats.



Saturday, July 12, 2014

Gold Coast Marathon 2014 - The Promise

Gold Coast Expo and Convention Center (photo: google)


Jumat tanggal 4 Juli, saya dan keluarga sampai di Gold Coast. Saat ke Expo di Gold Coast Convention Hall untuk ambil race packs, kesan bahwa organizer acara ini profesional sudah terasakan.



Event yang di ikutin 27,159 pelari ini, ngantri nya hanya 3 menit untuk ambil 5 race packs! Setelah ambil race packs kita harus lewatin area scan race-bibs (nomor dada) untuk verifikasi chip sesuai dengan nama kita. Lewat area tersebut kita langsung tiba di tempat pameran lari dan triathlon yang di ikuti oleh 30 plus exhibitors. In one word = impressive (untuk pengambilan racepack DAN expo lari nya)!



Sabtu 5 Juli adalah waktu race 10K dan 5.7K di Gold Coast Airport Marathon 2014. Istri saya ikut yang 10K, plus langsung lanjut temenin anak anak di acara 5.7K.







Istri saya kira kira 500 meter dari starting line 10K

Setelah balik hotel, saya cek iPad dan ternyata hasil race DAN sertifikat istri dan anak anak saya sudah keluar semua.

Damn! This race is absolutely professional and efficient! Four thumbs up!

Istri saya PB di race 10K, untuk pertama kalinya pecah telor 1 jam dengan catatan waktu 56:31! Congrats and hugs to my wife who is so happy with her race and the efficient organizing of the whole event.

Minggu 6 Juli, day of the marathon.


Malam sebelumnya saya coba tidur jam 9. Jam 11 saya bangun karena kepala yang tiba tiba pusing. I was nervous. Jam 1 akhirnya saya bisa tidur lagi dan jam 3 udah bangun tanpa alarm (yang saya setting untuk jam 5, karena start marathon nya jam 7:20). Saya siap siap dan berdoa untuk race yang smooth dari km 1 s/d km 42.2.


Ready for the 42.2 km ahead, with my Team Chubby jersey.


Saya jalan ke area start yang jaraknya 1.5km dari hotel, dan sampai race precinct sekitar jam 6:30.

Di starting area kategori turtle (paling belakang, untuk pelari pelan), saya ketemu mahasiswa Indonesia bernama Stevanus Irwan, yang sedang kuliah di Melbourne. Irwan ikut marathon pertama nya di Gold Coast saat itu dan memiliki target waktu yang sama dengan saya, yaitu di bawah 5 jam. Good for you Irwan, running a marathon from an early age!

Hari itu saya punya plan dan goal, yaitu lari sedikit di bawah pace 7 menit/km, dari awal s/d akhir. Menjaga pace stabil penting banget, karena udara di Gold Coast dingin, dan kalau saya terbawa eforia starting line pasti akan ngebut di depan ..dan ngesot di bekakang. Udara pagi di Gold Coast antara 10-15 derajat celsius, tetapi setelah jam 10 menjadi panas di jalanan terbuka, karena matahari yang sangat terik.


Di km 8, temptation untuk lari kencang karena udara dingin sangat menggoda tapi untungnya bisa saya redam. Saya tetap lari santai di pace 6:50 menit/km sambil dengerin audiobook "What I Talk About When I Talk About Running" karya Haruki Murakami.

Di sekitar km 33 ada tanjakan, dan betis kiri saya mulai keram, tapi kali ini saya paksakan diri untuk tidak jalan. Saya pushed terus dengan membiarkan pace agak kendor di atas 7 menit/km. Di km 37, audiobook Murakami habis dan saya ganti musik. Ternyata, musik di 5 km terakhir marathon itu sesuatu banget!

Ini official pace chart saya berdasarkan checkpoints yang saya lewati setiap 5 km.

Split times yang cukup "rata" dari awal sampai akhir.

Saya akhirnya bisa kembali ke pace 6:50 di km 38 dan bahkan di 2 km terakhir berhasil turun ke pace 6:17 menit/km. Saat saya lewat km 41, lagu "In The Name of Love" nya U2 versi Tiesto remix muncul di headset (not planned). 

In The Name of Love, I finally crossed that finish line at 4 hours 50 minutes 55 seconds.
I am Chubby. What About You?
That was my sub 5 story.


Thank you God. Thank you my family. Thank you Gold Coast!

PROLOGUE


Minggu, 27 Oktober 2013, jam 08:45 pagi = kilometer 28 di Jakarta Marathon.. "betis kiri keram.. coba lari.. betis kanan ikut keram.. damn! Alamat jalan lagi nih."

Memori marathon 42.2 km pertama saya di Bali tahun sebelumnya (22 April 2012) terngiang ngiang. Waktu itu, di turunan terjal kilometer 21 di Gianyar, otot hamstring kanan saya ketarik. Setelah jalan dan lari, dan lari dan jalan lagi, akhirnya saya finish marathon pertama di Bali dalam 6 jam 27 menit.

Cikal bakal marathon saya di Gold Coast sebenarnya dimulai di Jakarta Marathon. Di marathon ke dua saya itu, finish line akhirnya saya capai dalam kondisi keram hampir sekujur kaki, di waktu 5 jam 50 menit.

Saat itu, 27 Oktober 2013 jam 10:51, saya janji sama diri sendiri, tahun depan harus bisa marathon di bawah 5 jam.


Sehabis Jakarta Marathon, saya mulai hunting petualangan 42.2 km selanjutnya.

Walau belum pilih event yang mana, persiapan next marathon ini saya usahakan lebih maksimal, dan masih bisa akomodir kegiatan sehari hari yang penuh kesibukan lain nya.

Pada tanggal 24 November 2013 saya ikut Standard Chartered Half Marathon di Tangerang, dan untuk pertama kali saya bisa maintain average pace 6:00 menit/km selama 21.1 km, dengan finish time 2 jam 6 menit.

Sebelum saya lanjut, ada catatan bahwa posting ini bukan mengenai adu cepet sama orang lain. The only person I am trying to beat is myself.

Saya kenal banyak pelari yang jauh lebih cepet dan tangguh, and I truly respect each and every one of them.

In fact, I respect all runners, because running looks simple but it's not easy.

Cerita ini lebih ke nepatin janji ke diri sendiri, karena di dunia lelarian, ada pepatah: "Running gives back as much as you put in. And more."

Back to the hunt for the next marathon. Di awal tahun ini (2014) berita mengenai Sundown Marathon udah kenceng. Saya pikir menarik juga nih, karena malam hari.. jadi gak "kena" panasnya Singapore.

Setelah Bali Marathon di April 2012, saya sempet ikut event Craze Ultra di bulan September, acara lari gila di mana saya ambil kategori 78 km. Di acara itu saya bener bener merasakan panas Singapore dari matahari terbit sampai terbenam, bahkan sampe bulan keluar. Setelah Craze Ultra, saya juga janji sama diri sendiri, "kecuali ada acara khusus, gue ga akan pernah ikut marathon (atau ultra) di Singapore yang melibatkan matahari lagi."

Di hari terakhir registrasi early bird, tanggal 30 Januari 2014, akhirnya saya sign up untuk Sundown Marathon. Saya mulai lebih giat lari dan sering fartlek (lari santai yg diselingi lari cepat ke titik titik tertentu di rute, untuk latihan cardio yang lebih kuat). Target saya, harus break PB (Personal Best) 10K dari acara Nike We Run (15 Desember 2013 = 54 menit 7 detik) sebelum Sundown.

Minggu, 13 April 2014 saya ikut race JFS 5K di STB/ACS. Saya finish 5K dengan waktu 24 menit 53 detik, my first sub 5 min/km pace for 5K and a new PB (dibandingkan catatan waktu 27 menit plus di acara 5K sebelumnya di akhir 2012).

Di bulan Mei saya ikut race 10K setiap minggu, dimulai dengan Mandiri Run tgl 4 Mei, Pocari Run di 11 Mei, Samsung Run Series di 18 Mei dan Wine & Cheese di 25 Mei.

Di Mandiri 10K, saya PB dgn catatan waktu 54 menit 3 detik, dan di Samsung PB lagi dgn catatan waktu 52 menit 53 detik.

Dengan 1 PB di 5K, dan 2 PB di 10K, saya merasa siap untuk Sundown 2 minggu lagi. Ternyata.. Tuhan punya rencana lain..

3 minggu sebelum Sundown, virus flu sedang merebak di rumah saya, dan anak istri semua kena. Sejak sering lari, saya jarang sakit tapi klu sudah terjangkit biasanya parah. Dan bener aja.. abis Samsung Run saya kena flu parah yg langsung menjalar ke my problem area yaitu sinus. Menjelang Sundown, saya infeksi sinus dan harus makan antibiotik dan antihistamine. Ternyata antihistamine meningkatkan detak jantung (saya baru tau setelah balik ke dokter abis Sundown).

Saat lari di Sundown (1 Juni 2014), setelah menempuh 10 km dengan pace 7+ menit/km, saya liat heart rate monitor dan angka menunjukkan 175! "Gile bisa serangan jantung nih klu gue paksain!" Long long story short (ternyata lari setelah tengah malam di Singapore itu pengap dan ga enak banget banget), saya akhirnya selesai Sundown dengan catatan waktu 6 jam 39 menit. My worst race ever, literally and figuratively.

Saya kecewa setelah Sundown, and I was very down. Saya sadar infeksi sinus itu bukan salah siapa2, tapi seperti kata2 yang lagi sering digunakan belakangan = "sakitnya tuh di siniiii."

Anyway.. life went on and I remain blessed, and counting my blessings every day.

Kebetulan beberapa minggu sebelum Sundown saya pernah liat website Gold Coast Marathon, salah satu event lari yang jadi target masa depan. Yang menarik dari event ini adalah Registrasi nya, mereka terima pendaftaran s/d 1 hari sebelum acara, yaitu s/d tanggal 4 Juli 2014.

Di awal Juni saya memang lagi cari acara liburan sekolah anak anak. Saya cek penerbangan, ternyata ada budget airline Scoot yg terbang direct dari Singapore ke Gold Coast.

I have a promise to fulfil.

#GCAM14 here we come!


SUMMARY

Ikut acara lari 42.2 km is something special. You have to respect the distance, because a lot of things can happen between km 1 to km 42. Dan banyak hal lain yang bisa terjadi saat persiapan selama minimal empat bulan sebelumnya.

Untuk yang belum coba, dan memiliki waktu, kesehatan dan komitmen untuk latihan, give the marathon a shot. It will test you as much mentally as it will physically. If you are curious about discovering the kind of person you are, signing up for a marathon will be worth your while.

In the grand scheme of things, my runs including Gold Coast, is not that special. It was just something very personal, an 8-month journey to fulfil a simple promise to myself.

Thank you again to my team-mates at Team Chubby, fellow IndoRunners committee and members, and to all runners who is a constant source of inspiration in my everyday life.

One weekend, one family = 5 medals, 5 PBs. Blessed!

Setelah Gold Coast, apakah saya ada buat janji baru kepada diri sendiri? Hanya satu, I will keep running for the foreseeable future. Dan saya juga janji, no more marathon this year :) Dua dalam setahun sudah cukup untuk saya.



Ultra Gila di Singapura (Craze Ultra, September 2012)

#latepost 

Sabtu, 22 September 2012, jam 5:00 pagi waktu Singapore = KRINNGGGG! ..bunyi Alarm.. Time for "lari gila, di Craze Ultra!" Pikiran pertama saya.. "..baru tidur 2 jam-an nih. Berangkat gak ya?"

Kira-kira 10 jam sebelumnya, sy makan malam dengan keluarga di restoran Thai. Pendek cerita, ada segelas Thai Iced Coffee yang belum di sentuh di meja kami. Dan, dengan bodohnya, saya minum Es Kopi Susu itu!

Dengan kondisi nervous, ditambah kopi high-sugar, saya melek sampai jam 2:30 subuh (terakhir liat jam)! Saat terbangun karena alarm jam 5:00, di benak saya: "Mau coba lari lebih dari 10 jam, dengan bekal tidur 2 jam ....Loe udah GILAA!?"

Dengan afirmasi "ya, gua gila!" saya siap siap untuk berangkat. Jam 5:45 sy sampai di lokasi starting point, yaitu waduk MacRitchie Singapore. Di sana bertemu dengan Muara, Ultra-runner dan duta AdiNation, yg ambil kategori 160 km. Ada juga Hendra Wijaya dan Nyoman Suka Ada (160 km individual, sama dengan Muara). EDANN! Lalu ada teman saya Anto & Fasta, team IndoRunners duo 160 km (masing-masing 80 km). Dan Zedy Ng yg ambil "porsi" 101 km. Total ada 7 samurai gila dari Indonesia.

Memang acara ini cocok dengan namanya, "CRAZE ULTRA! Are You Nuts?!"

Yes, WE ARE Nuts!

*** DISCLAIMER! Cerita ini BUKAN mengenai competitive running. The only person I am competing with is myself. Cerita ini di tujukan untuk (semoga) memberi inspirasi, bahwa ikut DAN menyelesaikan marathon, bahkan ultra-marathon, bukan sesuatu yang mustahil. Banyak pelari yang lebih cepat dari saya, dan lari lebih jauh dari saya, dan saya menghormati mereka semua, dan saya menghormati setiap orang yang bersedia menantang dirinya sendiri, untuk "menembus batas," di mana batas2 tersebut seringkali adalah self-imposed. If you believe you can, you can (selama kita bersedia untuk melakukan persiapan yang mumpuni)! Catatan penting adalah untuk melakukan semuanya dengan bertahap, dan jujur dengan diri sendiri. Jangan lupa doa, karena many things are beyond our control. Believe, and Achieve! ***

Di Craze Ultra, peserta boleh bawa pacar ..eh maksud saya pacer. Jam 6:00 saya bertemu pacer utk 12 km pertama, teman sy Desmond Koh, perenang nasional Singapore yg pernah ikut Olympic 5X (teman nya Richard Sam Bera). Dengan mental "apa yg terjadi terjadilah," akhirnya race di mulai jam 7:08.

Apa yg saya bawa? Craze Ultra memiliki checkpoint (CP) rata rata setiap 10 km, dan di setiap CP peserta boleh nitip tas, yg bisa kita isi apapun yg kita perlukan. Saya isi tas-tas tersebut dengan baju ekstra + handuk kecil + electrolytes + energy bars + lampu. CP ini adalah "life-saver," karena dengan bisa nitip barang di setiap 10 km, saya jadi ga perlu bawa ransel/hydration-pack, karena sy khawatir ransel akan membuat pundak saya tdk bisa "napas" dan potensi overheated di udara Singapore yg hot & extra humid. Saya hanya bawa hand-held hydration, yg ada pocket utk taruh iPhone + blackberry. Untuk tracking "petualangan" ini, sy pakai Nike+ application di iPhone, yg sudah saya lengkapi dengan extra battery-jacket, untuk antisipasi waktu lari yg akan lebih dari 10 jam (dengan GPS nyala).

12 KM pertama sy lari di pace 7,25 menit/km, sesuai target. Itu pun sudah di warning beberapa kali oleh Desmond = "slow down dude. You got more than 70 km to go." HUEK! Langsung mau pulang denger angka 70km.

Di CP 1 (km 12) Desmond pamit pulang, dengan farewell words "You are Crazy, dude!" Coming from a Singapore national swimmer, I take that as a compliment! Sampai di CP 2 (km 21,5) Woodlands Waterfront, sy bisa lihat Johor Bahru di seberang laut. Di CP ini saya ganti kaos warna putih dengan kerah semi turtleneck, antisipasi panas matahari yg akan segera tiba.

Di CP 3 (km 30), sy bertemu pacer ke-dua sy, Vincent Ng, ketua klub alumni USC Singapore, yang sedang training untuk full-marathon pertamanya (Stanchart Singapore Marathon, 2 Desember 2012). Efek tidur 2 jam mulai terasa di km 33, sy cape dan ngantuk sangat. Untuk simpan tenaga, saya ajak Vincent untuk terapkan siklus lari-5-menit-jalan-2-menit. Jam 11 matahari panas dan kelembaban lengket khas Singapura sudah menyerang sekujur badan. Di km 35, saya coba stretching, dengan posisi "mendorong pohon besar." Saat saya stretch kaki, KERAM menyerang betis kiri bawah, DAN belakang paha kanan. Kaki saya melengkung dan GA BISA BALIK! Untung ada Vincent yg membantu saya meluruskan kaki.

CP 4 berada di km 39, dan jarak antara 35-39 km benar2 yang terberat. Dalam kondisi extremely-fatigued dan ngantuk, saya paksa diri saya utk lari dan jalan, langkah demi langkah. Begitu Vincent bilang, "CP 4 udah keliatan tuh, 500 meter di depan!" Saya lari menuju CP 4, telling myself, "get to the halfway point, and collect yourself there."

Saya duduk di CP 4 dan benar2 hampir ketiduran. Setelah re-fueling air + elektrolit, pisang + potato chips (untuk garam/sodium) + roti, dan disemprot air dingin (water never felt so good!), saya lanjut perjalanan balik (rute saya adalah starting point sampai CP 4 = 39 km, lalu balik ke starting point MacRitchie = 78 km).

Dari CP 4 (km 39) balik ke CP 3 (km 49), saya masih struggling dan harus paksakan diri. Vincent rencananya akan pace sy s/d CP 3 saja. Sampai CP 3 (km 49), saya mulai merasa lebih baik, mungkin karena rute sudah lebih dari 60% selesai.

Dari CP 3 ke CP 2, saya merasa energized dan picked up the pace. Mungkin karena liat saya kembali semangat, Vincent memutuskan untuk nemanin saya s/d CP 2. Dia kaget liat saya mulai lari lebih cepat: "Wow, I guess there is such a thing as the second wind!" Response saya (sambil meyakinkan diri sendiri), "yes, believe in yourself, and the second wind will come!" Vincent akhirnya pamit meninggalkan saya di sekitar km 53. Dan saya maju terus menuju CP 2. Saat itu sudah mau jam 5 sore, tapi udara Singapore masih panas & sangat lengket. Sebelum Vincent pulang, dia mengatakan "hey, this is inspiring man!" Saya jawab "thanks Vincent, appreciate you sticking around for so long!"

Akhirnya sampai CP 2 (km 56,5) ...SISA 21,5 KM! Saya gunakan checkpoint tersebut untuk istirahat, re-fueling elektrolit, pisang dan potato chips, dan ganti kaos favorit saya, dengan tulisan FIGHT ON! Saya juga ambil lampu tempel jidat, untuk masuk ke Ulu Sembawang Park, yang di peta sudah di tulis "UNLIGHTED PARK" (taman tidak berlampu). Saat waktu menunjukkan sekitar jam 7:30 malam, saya sampai di "mulut" Ulu Sembawang Park, dan ada sign = "YOU ARE STRONG! KM 63!" Pikiran saya "ASSSIKKKKK, sisa 15 km from the promised land!"




HORROR!

Saya masuk Ulu Sembawang Park yang gelap gulita (liat foto). Coba bayangkan, anda seorang diri, di "temani" lampu di kepala yang nyorot sekitar 2-3 meter ke depan, dan 360 derajat total darkness (hitam pekat), dengan environment banyak pohon (suddenly music from the Twilight Zone ringing in my ears). Dan untuk melewati park tersebut, jarak yg harus ditempuh sekitar 2 kilometer. GILA! Setiap kali ada suara di pohon pohon, kepala (dan lampu di jidat) refleks nengok, dan, gak keliatan apa-apa (gimana kalau keliatan sesuatu, bisa jadi sesuatu banget tuh!). Setiap beberapa saat, saya lihat ke belakang, dan tentunya ga bisa liat apa-apa, karena lampu hanya nyorot 2-3 meter ke arah kepala menengok (untung ga ada apa-apa atau siapa-siapa di belakang! Klu sampai ada... gw musti ngomong WOW gitu?!). Yang paling bikin be te, footpath di park tersebut UPHILL. Karena kondisi cape banget, dan masih ada 15 kilometer, saya jalan cepat selama footpath masih nanjak (and it felt like F O R E V E R). Begitu footpath landai, saya lariiiiii. Waktu saya lihat jalan raya terang, kira-kira 300 meter di depan, saya tidak pernah begitu senang seumur hidup melihat tiang lampu di jalan raya! Memang GILA nih Craze Ultra!

Eniwei…. akhirnya saya sampai di CP 1, kilometer 66. YEEHAAAAA! Dua belas kilometer lagi! Kaki rasanya sudah kaya tahu pong! Di tas yang saya titip di CP tersebut, saya memang sudah taruh beberapa mooncake (kue bulan), untuk saya bagi2kan ke volunteer yang jaga di sana. Mereka sangat senang dapat mooncake (lagi musimnya) Saya juga senang, karena perjuangan sudah akan berakhir.

Saat di CP 1, melalui bb saya tahu anak istri sudah nunggu di MacRitchie. Saya bb ke mereka, "sabar yah. Last checkpoint, tinggal 12 kilometer, tapi mungkin agak lama nih."

Saya sempat nyasar di leg terakhir ini. Karena saya merasa sudah lari di Upper Thompson lama banget, firasat saya mengatakan sudah melewati MacRitchie, dan saya lari BALIK ARAH (padahal belum sampai MacRitchie, pinter banget deh gue)!

Saya sempet bingung dan telpon Ben Swee/race director Craze Ultra. Setelah kembali ke jalan yang benar, akhirnya sekitar jam 10 malam, saya sampai di Promised Land a.k.a. MacRitchie. Setelah sekitar 15 jam lari + jalan + keram + navigasi, I FINISHED my first ULTRA! Karena nyasar, jarak 78 km saya "nambah" jadi 79 kilometer! Memang yang ikut acara ini semua gak waras, dan saat itu saya sendiri merasa udah sedikit gila.

Saya tanya ke panitia, bagaimana waktu saya? Saya pikir saya yang paling akhir di kategori 78 km (mengingat episode horror sendirian di ulu sembawang park). Ada total 240 peserta di Craze Ultra perdana ini, dan di kategori 78 km individual, ada 18 orang yg terdaftar. Dengan waktu 15 jam 29 menit, saya ternyata finisher # 7 dari 18 orang (ada dua DNF, dan dua DNS). Ga bagus (not at all), tapi ga sejelek yang saya kira.

Jarak 79 km yg sy tempuh, sama dengan jarak Jakarta ke Purwakarta, "naik kaki". Begitulah cerita saya, ber gila ria di craze ultra! Semoga sedikit menghibur, dan semoga bisa meng inspirasi sebagian anda untuk ikut2an gila

Thank God for allowing me to finish. Thank my family for putting up with this crazy husband and father. Thank IndoRunners for motivating me to keep running.

Cerita ini saya dedikasikan untuk Nyoman, Muara dan Hendra, the REAL Three Musketeers of Indonesia, yang semua SELESAI di kategori 160 kilometer individual (DNF di kategori ini 63%!!). You guys make Indonesia PROUD!

Selamat juga untuk semua ultraman lain dari Indonesia, terutama teman sy yg ngajak lari pertama kali, yaitu ANTO, dan team-mate nya Fasta yg menyelesaikan 160 km TEAM (masing masing 80 km!), dan untuk Zedy Ng yang berjuang di 101 km.

Finisher Medal saya dedikasikan ke teman saya mister anonim, yang telah menyumbang 4 perpustakaan AUSCI untuk empat SD Negeri di Sleman, waktu kami lari bareng sambil ngobrol di suatu hari Minggu di bulan Juli, yg akhirnya memicu saya daftar di Craze Ultra.

Mari Lari!

Malam Pertama si Virgin - Bali Marathon 2012

#latepost

Minggu, 22 April 2012, 4:50am = MAGICAL atmosphere to start my first marathon. "Apapun yg terjadi, today I must lose my marathon virgin status!"

Senang ketemu banyak manteman IndoRunners di starting area, dan saat waktu menunjukkan 5:02 WITA, the race started! Yess!!

Saya ketemu dan berlari bersama Pak Petrus Gautama di km 1 s/d km 2. Saya bincang2 dgn Pak Petrus, dan dia tanya target time saya "klu ideal, target sih 5 jam 30 menit pak. Tapi perjalanan masih jauh"

Pak Petrus sendiri punya target di bawah 4 jam 30 menit. Saya salut sama komitmen, dan pace, bapak yg satu ini. Obviously he trained well for this. Beliau picked up the pace and soon he was a blur.

Keeping at my own pace, saya lewati km 20 dalam 2 jam 23 menit, on track utk target selesai 5 jam 30 menit. Strategi sy = 2 jam 30 menit utk the first 21km. Dan margin utk kendor 10-15% di second-half 21km. At least that was the plan.

Speaking about plans... Pas sebelum km 21, ada turunan TERJAL (steep downhill) menyambut. Karena badan besar, dicampur momentum dan gravity, sy tidak bisa nge-rem (!) dan sedikit panik utk berusaha "menyelamatkan" lutut.

Waktu sedang "meluncur" di tukikan ke bawah, sy kepikiran "Damn. I didn't train for this." Saya merasakan left hamstring (otot belakang lutut) KETARIK (!) "Man, this is NOT GOOD!"
Begitu downhill selesai, datanglah uphill. Saya jalan uphill dgn otot hamstring ketarik. Lalu ada sign "water station 100m ahead." Great, something to look forward to.

Sampai water station... kosong. No water.

Bete bete bete X1,000

"Berhenti aja yuk," I said to myself. Di titik ini, saya lewati first-half (21k) dengan waktu 2 jam 31 menit.

Dengan hamstring yg sudah ketarik, saya coba kombinasi lari dan jalan. Saya coba lari, dan setiap otot hamstring 'teriak,' saya jalan. Begitu membaik setelah jalan, saya coba lari lagi. Saya ulangi siklus ini. "Man, this is going to be a LONG DAY."

Pada waktu itu saya harus membuat keputusan. What am I gonna do? Quit? Continue? I want to finish, but I definitely DON'T WANT SERIOUS INJURY.

Karena saya sedang berlari utk program amal "Marathon untuk Membaca," di mana banyak teman yg setuju ikutan nyumbang KALAU sy selesai 42.2km (see PROLOGUE below), saya putuskan "JUST FINISH. Walk and run. Run and walk. Stay clear of serious injury."

Saya teruskan kombinasi walk and run, sembari mendengarkan signal dari otot hamstring yg sudah ketarik. Saya lakukan 2 pitstop di Medical Bay, yg pertama sy massage krim Voltaren ke depan dan belakang lutut saya. Di medical bay ke-2, saya semprot lutut dan paha dengan "muscle spray." Di tengah jalan, sempat foto jurnalis Hong Kong mr. Chong (pake wig, sedang tiduran di warung es krim, foto ada di halaman IR) yg sedang ice-cream stop. Ini membantu saya utk rileks dikit. Marathon can be fun too, enjoy aja.

Pendek cerita, setelah sequence lari/jalan utk "menenangkan" otot hamstring yg ketarik, saya akhirnya lihat sign KM 39, dan elapsed-time menunjukkan 6 jam 5 menit. Aman! Secara matematis, karena batas waktu 7 jam dan sisa hanya 3,2km, saya bisa jalan s/d garis finish dan bisa dapat medal.

Di sinilah terjadi personal moment-of-truth (atau moment-of-stupidity?). Saya bergumam ke diri sendiri "HEY, finish UNDER 6 hours 30 minutes yo! CAN YOU?" Ouch! Ditantang diri sendiri nih.

Saya regangkan lutut2 sebentar dan begitu papan KM 39 di depan mata, I started running hard (dalam context orang yg sudah relatif teler).

"I have to finish below 6 hrs 30 minutes, please help me God." Mungkin karena sudah mampir medical bay 2x (kudos to race organizer), otot hamstring kiri sakit tapi tidak sampai unbearable. Saya sempat keingat line dari film: "Chicks dig scars. Pain is temporary. Glory is forever"

"Hey, I can do this. Let's finish STRONG!"

I crossed the finish line with my watch recording 6 hours 27 minutes. I covered the last 3,2 km running hard. Being able to finish strong was a very personal moment of victory. 

Melihat mantemans IR di finish line @anto @ronald @pipin @jane @nduty DLL was a big reward. Dan tentunya keberadaan istri dan anak2 yang menyambut di finish line, and the beauty of the moment was COMPLETE.

"All the pain, all the training, semua terbayarkan dengan momen ini!"

My marathon cherry has been popped. With 33 minutes to spare.

And the BIGGEST bonus = 13 ruang baca baru, dengan 6,500 New English books/comic utk anak2 SD Negeri di Sleman, Jateng: AMAN! Construction/renovation begins next month.

That was my marathon-virgin story.

NB: belum cukup? Lanjut ke bagian PROLOGUE Ini ceritanya marathon juga.. lagi banyak waktu nulis karena lagi post-marathon recovery-mode di rumah alias cuti 1 hari ..hahaha
Maaf sebelumnya kepada serious runners/racers, saya mengerti bahwa waktu finishing saya sangatlah embarassing Cerita ini lebih untuk mencoba memberi inspirasi, bahwa finishing a marathon is within our means. Apalagi sekarang international marathon sudah ada di Tanah Air kita, setidaknya utk 3 tahun ke depan.


------------
PROLOGUE


Tahun lalu, TOTAL kilometer saya lari selama 12 bulan = kurang dari 90km. Dalam kata lain, sy jarang lari 

Diajak oleh IR Anto dan beberapa teman lain, akhirnya di bulan Oktober saya ikut race pertama saya di "Jkt Race for Cancer 10K." Tadinya saya pikir, "sudah beres nih urusan lari berlari. Udah selesai 10K."

Di bulan November, saya dengar teman sy Vanessa Fu bilang dia daftar ikut Hong Kong Marathon bulan Februari 2012, her first marathon. Dalam hati sy pikir "wow. Orang gila aja yg mau coba lari 42km."

Sebelum lanjut, cerita ini bukan mengenai breaking speed record. It's about a journey, a 6-month journey topped with a 42.2km adventure. Dan cukup banyak hal yg terjadi sebelum petualangan ini selesai.

Vanessa dan sy anggota komite organisasi nirlaba Ikatan Alumni USC (University of Southern California) di Indonesia, AUSCI. Salah satu kegiatan AUSCI adalah CSV (creating shared value) program yg mencoba bangun/renovasi libraries (perpustakaan sekolah) di SD-SD Negeri daerah Indonesia yg terkena bencana. S/d akhir 2011, sudah terbangun 22 ruang-baca (10 di Padang, dan 12 di Sidoarjo). Program ini kami namakan "CerdasBang!" (mencerdaskan bangsa), dgn Goal membangun 50 ruang-baca sejenis s/d tahun 2015.

Melalui marathon pertamanya, Vanessa mencoba menggalang dana utk "CerdasBang!" Pada waktu itu (Desember), sy pikir "COOL IDEA juga nih. Lari marathon nya jadi ada misi. Tapi 42km? Not for me. No way jose."

Lalu sy dengar kabar mengenai Bali Marathon, the first international marathon in over 20 years in Indonesia, akan diadakan di Bali bulan April 2012. "Wah harus ikut nih. Tapi jarak berapa? 10K sudah pernah.. Ya udah yang 21K saja."

Akhirnya sy daftar yg 21K. Di awal Januari sy mulai training utk half-marathon. 

Di pertengahan Januari, saat sy banding2kan program training di web, ada program training full marathon utk pemula, yg tdk berbeda jauh dgn yg half marathon. "Wah, boleh dicoba nih. Marathon international pertama di Bali. Dan kalau Full Marathon, saya bisa coba galang dana utk program CerdasBang! seperti Vanessa."

And just like that, saya pindah dari half ke full marathon, and I switched the training program accordingly.

Dari 3 Januari s/d hari H, saya melakukan 46 sesi training runs dgn total latihan = 568 km. Dalam hal ini, saya mau mengucapkan special THANK YOU utk IndoRunners, yg dengan SMR sdh sangat membantu sy on-track di training program.

Mungkin ada yg masih ingat, sy pertama kali join SMR pada acara Garmin di Januari. I was fat and slow then. I am still fat, albeit 7 kg lighter. And I am still slow, just a bit faster but perhaps significantly better in terms of endurance. And the long-run SMRs played a big role in helping improve my overall running. Dan ternyata, saat hari H saya butuh setiap kilometer hasil training tersebut. THANK YOU guys and gals.

Selama training, saya pikir usaha "Marathon untuk Membaca" ini akan menghasilkan paling banyak 2-3 ruang baca baru. Semakin dekat dengan hari H, seiring dengan promosi BII Maybank yg cukup gencar utk acara BMBM, ternyata momentum program amal "Marathon untuk Membaca" ini juga membesar. Pendek cerita, seminggu sebelum BMBM, jumlah donasi yg di pledge (komitmen utk nyumbang) ke saya, cukup untuk membangun/renovasi 13 ruang baca baru (!), di 13 SD Negeri di Sleman, Jateng (bekas kena gempa & debu volcano). Yang menarik, banyak teman yg bilang mereka akan nyumbang X amount, HANYA kalau sy berhasil menyelesaikan 42.2km. Teman sy memang lucu lucu.

Seminggu sebelum BMBM, terus terang program amal ini menjadi beban. "Berlari membawa 13 ruang baca di pundak saya?" Oh no. What did I get myself into? What if I don't finish?"

Saya stres berat.

Hari Jumat, H-2, saya hanya tidur 3 jam karena kepikiran hal di atas. Hari Sabtu malam sebelum marathon, sy berusaha tidur pagian, jam 9 sudah mati lampu. Jam 10:30 sy nyalain lampu lagi karena ga bisa tidur. Ngobrol2 dgn anak istri yg ikutan ga bisa tidur, akhirnya sy tidur sekitar 12:15.

Jam 3 subuh sy bangun, sebelum alarm bunyi (sy tinggal di hotel bali safari, dan ada shuttle dari hotel ke starting area).

The moment-of-truth had arrived. "Malam pertama"-ku sudah tiba (back to top of page, it's a loop you know.. hahaha).

Tuesday, June 24, 2014

Satu Yang Terpenting

"1 Yang Terpenting" memiliki arti berbeda bagi setiap orang dan/atau organisasi. Di buku The One Thing, penulis Gary Keller mengatakan bahwa setiap individu atau organisasi harus fokus terhadap SATU hal/tujuan, untuk memastikan hasil yang maksimal.

Team Chubby didirikan saat Allianz Indonesia bekerjasama dengan IndoRunners (komunitas lari terbesar di Indonesia) dalam rangka AVR Teams Competition dari 21 Juli s/d 6 Oktober 2013.



Saat mendapat tawaran dari mas Ario/Allianz untuk menjadi non-paid Kapten salah satu dari sepuluh Team lari yang akan berkompetisi mengumpulkan kilometer lari terbanyak dalam periode 11 minggu tersebut, saya tidak langsung mengiyakan.

Saya sendiri baru mulai aktif lari di Desember 2011. Waktu itu saya sangat minder untuk ikut lari dengan IndoRunners. Tapi karena saya sedang harus latihan untuk program "Marathon Untuk Membaca" di Bali Marathon bulan Mei 2012, akhirnya saya nekat untuk ikut2an Sunday Morning Runs nya IndoRunners. Apa ketakutan saya waktu itu? Takut minder dengan para pelari yang senior dan/atau kencang kencang.

Saat itu saya bisa jogging dengan pace 8 menit/km saja sudah senang, sedangkan pelari lain keliatan ngacir2. Untung nya semua tipe pelari ada di IndoRunners, termasuk yg besar kecil kencang pelan maupun kribo dan plontos.

Berdasarkan pengalaman awal yg penuh keminderan, dan karena saya sendiri chubby, saya akhirnya pilih nama Team Chubby.

Mengapa namanya Team Chubby? Karena kata Chubby di asosiasikan dengan tubuh gemuk. Dan tubuh gemuk tentunya tidak bisa lari kencang. Dan karena namanya Team Chubby, harapan saya semua orang yang ingin ikutan tidak usah minder ataupun takut di sisihkan.

Nama team sudah, apa yg harus ada selanjutnya? 


Sebuah team, layaknya organisasi apapun, perlu memiliki tujuan/misi yg jelas. Common value ini yg akan menjadi perekat antar members, karena (asumsinya) yang mau join sebuah team adalah yg believe (percaya) dengan tujuan tersebut.

Team motto menjadi pe er. Setelah mempertimbangkan beberapa opsi, saya tetapkan tagline berikut sebagai common value dari Team Chubby:

Run for Fun. Care to Share!



Saya ajukan nama dan motto team ke mas Ario, dan begitulah cerita terbentuknya Team Chubby.

Apa sih arti motto team ini?

"Run for Fun" mencanangkan lari yang enjoyable. Ingin berprestasi oke saja, tapi karena yg ingin dikejar adalah lari sebagai (semoga) lifetime habit dan bukan hanya sesaat, yg lebih penting adalah enjoyment dari aktifitas lelarian. Artinya, klu lagi ga pengen lari, stop dulu. Hindari burnout dan utamakan running as a lifetime habit sebagai tujuan utama.

Kata "Care to Share" juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tagline Team Chubby, dengan arti peduli untuk bagi bagi:
  • Bagi pengetahuan lari
  • Bagi nasi bungkus
  • Bagi waktu untuk training bersama persiapan Jakarta Heart Run dan Jakarta Marathon
  • Bagi keringat lari untuk korban bencana alam

Semua hal di atas sudah dilakukan oleh Team Chubby, dan semua ini berpusar dari satu kata, yaitu care = "peduli."

Team Chubby sebagai team yg berasal dari komunitas IndoRunners mendukung misi IR yaitu menularkan virus lari ke lebih banyak masyarakat Indonesia dengan tagline "Mari Lari!" nya.

Team Chubby menambahkan kata 'Peduli,' menjadi "Mari Lari Peduli," yang menjadi terjemahan dari motto "Run for Fun, Care to Share" kami.

Kami percaya bahwa lari hanya bisa menjadi habit (kebiasaan) jangka panjang, bila didasarkan oleh kepedulian. Kepedulian atas kesehatan diri sendiri menjadi yang pertama. Hanya setelah peduli dengan kesehatan sendiri dengan aktif berlari, barulah kita bisa membantu orang lain dengan bentuk kepedulian yang lebih LUAS lagi.

Kepedulian, itulah #1ygTerpenting dari Team Chubby.






Lari Bareng Sunday Morning Run di CFD

Jimmy dan Bimo, VIP (Very Important Pelari) Chubbies

Chubbies di Wine & Cheese Run, Mei 2014

Kami aktif lari karena peduli. Peduli kesehatan diri sendiri. Setelah itu, kami juga coba sebarluaskan kepedulian terhadap orang lain, dengan program program seperti LNCB (Leave No Chubby Behind) saat Jakarta Marathon 2013 dan COTR (Chubby On The Road) di 27 April 2014.


Saat Jakarta Marathon 2013, ada lebih dari 10 members Team Chubby
yang "pecah telor" menjadi marathoner (finish 42 km untuk pertama kali nya)


Dari segi prestasi, hasil Allianz AVR Teams competition 2013 = Team Chubby menjadi Juara 1 di divisi Avid Running Teams (pelari aktif). 

Selain itu, dari 10 Team yang ada, Team Chubby menyelesaikan kompetisi di bulan Oktober 2013 dengan jumlah member terbanyak DAN kilometer terbanyak.


Para pemenang AVR Team Competition dari Team Chubby,
termasuk Rinal (ke empat dari kiri) yang berangkat ke
Penang Bridge Marathon. Congrats to ALL!



AVR Teams competition adalah sebuah marketing exercise dari Allianz Indonesia, dan kami Team Chubby sebagai non-paid constituent senang bisa berperan membantu Allianz mendapatkan peringkat #1 di digital marketing score di antara seluruh perusahaan asuransi Indonesia di akhir 2013.

Dari semua aktifitas ini, yang kami banggakan adalah sampai saat ini (Juni 2014) kami masih lari dan tetap peduli, dengan 450 plus members di facebook dan 280 plus runners di endomondo (untuk yang belum gabung, ayo ikutan dengan klik dan join di dua tautan ini).



#1ygTerpenting Team Chubby sudah terwujudkan secara nyata di acara COTR (Chubby On The Road) di akhir April 2014. Acara COTR melibatkan ratusan pelari chubbies dan non-chubbies, dengan hasil akhir dana amal Rp.20 juta, yang 100% kami konversikan menjadi 3,500++ nasi bungkus yang di bagi bagikan ke warga membutuhkan di daerah TPU Karet Bivak dan TPU Petamburan.




Chubby On The Road (COTR), 27 April 2014
Hundreds of Runners, Running for Thousands of Nasi Bungkus


Saat menulis artikel ini, kegiatan bagi nasi bungkus (500 pax setiap hari Sabtu) hasil COTR masih berlangsung via Yayasan Kechara Indonesia s/d akhir Juni 2014.



Yes, we care. Actions speak louder than words.

Keberadaan Team Chubby tentunya tidak lepas dari support para senior, ultra runners Sitor, Bui Phin dan Nyoman, ultragirls Pipin dan Jane, dan Stephanus yang aktif di Tangerang Crazy Runners juga. Para mimins dan penggerak-belakang-layar team Chubby seperti Gerry, Anna, Dora, Norman, Mandes, Agung, Bimo, Sherwin, Iwan, Edo, Iwan, Muh, Nirwan, Rudy, Ella, Sulung, Todi, Norman, Anette, Irul, Louis, Vennie, Kenny, Paul (dan masih banyak lagi yang belum tersebut di sini) semuanya proaktif dalam mewujudkan motto team kami.


Puti Andam, Ultragirl Pipin, Jendral Bui Phin, Kapten Chubby, Jendral Sitor, Norman.

#1ygTerpenting mutlak diperlukan setiap organisasi. Bagi Team Chubby, pedoman kami tetap sama dari saat kami lahir, mulai bisa jalan dan sampai kami berlari saat ini = "Run for Fun, Care to Share."


Empat dari banyak signage yang di display di layar lebar Pocari Run 2014,
untuk menyemangati para Chubby runners.

Berangkat dari motto tersebut, #1ygTerpenting bagi Team Chubby adalah = Kepedulian


Apakah #1YgTerpenting bagi anda?



Mari Lari Peduli!